Rabu, 23 Sep 2026
Home
Search
Menu
Share
More
20 Sep 2026 07:14 - 4 menit reading

Harga Hasil Laut Anjlok di Pangandaran, Nelayan Mengeluh Udang Krosok Melimpah Tapi Sepi Pembeli

www.JendelaPeristiwa.com.ǁJawa Barat,20 September 2026-Para pelaku usaha perikanan tangkap di wilayah pesisir Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, mengeluhkan penurunan drastis harga jual komoditas hasil laut di saat pasokan ikan sedang melimpah.

Situasi tersebut mengakibatkan para nelayan mengalami kendala besar untuk memasarkan seluruh hasil buruan laut mereka. Salah satu dampak penurunan paling terasa dialami oleh komoditas udang krosok.

Nilai jual yang mulanya bertahan pada kisaran Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu per kilogram, saat ini merosot tajam hingga berada di level Rp 20 ribu per kilogram.

Bukan sebatas harga yang jatuh, para pencari ikan juga mengaku kesulitan menjaring pembeli. Padahal, volume tangkapan udang krosok pada musim ini terhitung sangat melimpah.

“Alhamdulillah sekarang lagi ramai, tapi jualnya susah,” ujar Edi Siswadi (47), nelayan di Pangandaran melalui seluler, Minggu (20/9/2026) pagi.

Menurut penuturan Edi, tingginya volume tangkapan laut rupanya tidak diimbangi oleh daya serap pasar yang optimal di kawasan Pangandaran.

Sejumlah pengepul atau bakul yang kerap menampung komoditas tangkapan nelayan belakangan ini dilaporkan sangat jarang melakukan transaksi pembelian.

“Sudah susah jual, bakul juga jarang yang beli. Mungkin mereka bingung untuk menjualnya,” katanya.

Nada serupa diutarakan oleh Amir (44), seorang nelayan dari kawasan Batuhiu. Ia memaparkan bahwa jumlah pasokan ikan saat ini sangat berlimpah, namun saluran pemasaran untuk menjualnya justru tersumbat.

“Padahal sekarang lagi banyak ikan, tapi pasarnya susah. Kalau sebelumnya biasa dijual ke bakul dan ada yang ke konsumen. Tapi, sekarang susah,” ucap Amir.

Para pelaku usaha tangkap ini sangat berharap agar pemerintah beserta pemangku kepentingan terkait segera bertindak memformulasi jalan keluar atas persoalan tersebut, terutama dalam menjamin stabilitas harga sekaligus membuka jaringan pemasaran baru bagi komoditas nelayan.

“Jadi, harga dan pasar harus benar-benar diperhatikan,” ujarnya.

Anjloknya nilai jual udang krosok serta minimnya daya serap pasar terhadap tangkapan nelayan di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, mendapat perhatian serius dari Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pangandaran saat memantau transaksi di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang dikelola KUD Minasari pada Sabtu (19/9/2026).

Ketua HNSI Kabupaten Pangandaran, Jeje Wiradinata, menilai dinamika ini amat memprihatinkan lantaran para nelayan dipaksa berhadapan dengan ketidakpastian harga pada berbagai jenis komoditas laut.

Kala mengamati langsung proses pelelangan, Jeje menyaksikan secara nyata tumpukan udang krosok milik nelayan yang terbiarkan tanpa ada pembeli.

“Coba bayangkan, ini enggak ada yang beli, enggak laku. Sedih saya,” ujar Jeje dalam video diterima Tribun Jabar melalui WhatsApp, Minggu (20/9/2026) pagi.

Berdasarkan pengamatannya, kendala serupa turut menimpa beberapa jenis hasil laut lainnya, seperti ikan pukudian. Kondisi ini bertolak belakang dengan komoditas ikan layur yang nilai jualnya cenderung konstan dan tetap diminati konsumen.

“Kalau layur harganya stabil, nelayan tersenyum. Tapi udang krosok sekarang tidak dilirik pembeli,” katanya.

Guna menghindarkan nelayan dari kerugian yang kian membesar, KUD Minasari pada akhirnya mengambil langkah memborong seluruh pasokan udang krosok yang gagal diserap pasar. Seluruh komoditas tersebut lantas dibagikan secara cuma-cuma kepada warga setempat.

“Sebagai bentuk tanggung jawab, maka dibeli oleh KUD Minasari. Barang ini dibawa untuk dibagikan,” ucap Jeje.

Jeje menegaskan, penumpukan hasil laut yang tidak terserap di TPI merupakan ancaman serius karena berdampak langsung terhadap pemenuhan kebutuhan hidup nelayan.

Oleh karena itu, pihaknya bertekad memperketat pengawasan terhadap proses jual beli di TPI-TPI wilayah Pangandaran.

Upaya ini ditempuh untuk memantau dinamika niaga sekaligus memastikan tata cara transaksi dan penentuan harga barang berjalan transparan dan berkeadilan.

“Pengabdian yang paling nyata adalah hadir dan membantu perekonomian masyarakat nelayan yang tidak mampu,” ujarnya.

Di sisi lain, jajaran pengurus KUD Minasari tengah mematangkan skema taktis guna membenahi rantai distribusi serta fluktuasi harga komoditas perikanan tersebut. Pembenahan strategis ini ditargetkan siap diaplikasikan secara efektif dalam waktu dua hingga tiga bulan mendatang.

Jeje menambahkan, langkah pencarian jalan keluar terus diupayakan agar harga jual komoditas tangkapan nelayan dapat kembali berada pada tingkat yang ideal.

“Saya sedang mencari jalan keluar agar persoalan ini ke depan bisa terselesaikan. Saya sedang melakukan langkah-langkah penanganan agar harganya bisa berjalan dengan baik mulai Senin ini,” ucapnya.