www.JendelaPeristiwa.com.ǁJawa Barat,19 September 2026-Gempa bumi M5,1 yang mengguncang Samudra Hindia selatan Jawa pada Jumat (18/9/2026) malam menjadi pengingat serius akan dinamika aktif di sepanjang zona subduksi selatan Jawa.
Pakar Gempa Bumi dan Tsunami, Daryono, mengatakan kawasan tersebut memiliki karakter sumber gempa yang perlu terus diwaspadai karena gempa berkekuatan besar di bagian dangkal zona subduksi berpotensi menghasilkan tsunami, termasuk fenomena tsunami earthquake.
Gempa M5,1 tersebut terjadi pada pukul 21.36.19 WIB. Episentrumnya berada sekitar 202 kilometer barat daya Bayah, Banten, dengan kedalaman 33 kilometer.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia inimenjelaskan, gempa tersebut menjadi pengingat penting mengenai aktivitas tektonik di sepanjang zona subduction trench/front atau muka zona subduksi.
“Meskipun gempa M5,1 ini memiliki mekanisme kombinasi pergerakan mendatar-naik (oblique thrust fault) dan tidak memicu tsunami karena magnitudonya relatif sedang, lokasinya berada di zona transisi dangkal interaksi Lempeng Indo-Australia dan Sunda Megathrust,” kata Daryono yang merupakan mantan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG tersebut, Sabtu (19/9/2026).
Menurutnya, gempa yang berpusat di sekitar front subduction memiliki karakter khusus yang patut dipahami. Sebab, apabila terjadi gempa dengan magnitudo besar di kawasan tersebut, mekanisme sumber gempanya dapat berkaitan dengan pembentukan tsunami.
“Gempa yang berpusat di front subduction semacam ini menyimpan karakter khusus yang patut diwaspadai jika terjadi dalam magnitudo besar,” ujarnya.
Mengapa Bisa Memicu Tsunami?
Daryono menjelaskan, salah satu fenomena yang perlu diwaspadai di zona subduksi adalah tsunami earthquake atau gempa tsunami.
Fenomena tersebut terjadi ketika gempa menghasilkan tsunami yang relatif besar dibandingkan dengan tingkat guncangan yang dirasakan masyarakat di daratan.
Ketika gempa bermagnitudo besar, terutama lebih dari M7,0, terjadi di bagian terluar zona subduksi dekat palung, terdapat sejumlah kondisi yang dapat mendukung terbentuknya tsunami.
Pertama, kawasan dekat palung umumnya memiliki material sedimen yang tebal dengan kekakuan rendah atau low-rigidity sediments.
Kondisi tersebut membuat karakter pelepasan energi gempa berbeda dengan gempa yang terjadi pada batuan yang lebih kaku.
Kedua, proses ruptur pada tsunami earthquake dapat berlangsung relatif lambat. Gelombang geser yang dihasilkan juga relatif lebih lemah sehingga guncangan di daratan dapat terasa tidak terlalu kuat.
“Ketika gempa bermagnitudo besar terjadi di area terluar subduction zone dekat palung, sifat batuan sedimen yang lembek dan proses ruptur yang lambat menjadi salah satu karakter yang perlu diperhatikan,” jelasnya.
Ketiga, deformasi dasar laut dapat menjadi besar. Pergerakan vertikal dasar laut tersebut kemudian dapat mengganggu kolom air laut dalam jumlah besar dan menghasilkan tsunami.
“Fenomena inilah yang disebut tsunami earthquake, yaitu gempa yang menghasilkan tsunami jauh lebih besar daripada yang diperkirakan berdasarkan skala intensitas guncangan atau magnitudo gelombang permukaannya,” kata Daryono.
Punya Rekam Jejak Tsunami
Menurut Daryono, ancaman tersebut bukan sekadar teori. Indonesia memiliki sejumlah catatan sejarah gempa besar di zona subduksi yang diikuti tsunami.
Salah satunya adalah tsunami Banyuwangi pada 1994. Gempa berkekuatan sekitar M7,8 di wilayah selatan Jawa memicu tsunami yang menerjang kawasan pesisir dan menyebabkan korban jiwa.
Kemudian tsunami Pangandaran pada 2006. Gempa berkekuatan M7,7 yang terjadi di lepas pantai selatan Jawa Barat memicu tsunami yang menerjang sejumlah wilayah pesisir selatan Jawa.
Peristiwa serupa juga terjadi di Mentawai pada 2010. Gempa M7,8 di zona dangkal front subduction Sumatra memicu tsunami besar yang menerjang kawasan Kepulauan Mentawai.
Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa karakter zona subduksi dangkal perlu menjadi perhatian dalam upaya mitigasi bencana tsunami.
Karena itu, Daryono menilai pemantauan terhadap gempa-gempa yang terjadi di sepanjang zona subduksi selatan Jawa tetap penting, termasuk gempa dengan magnitudo sedang seperti yang terjadi di selatan Bayah.
“Monitoring berkala terhadap mekanisme gempa skala sedang seperti M5,1 di Bayah ini sangat vital untuk memetakan akumulasi stres di sepanjang batas lempeng selatan Jawa guna mendukung kesiapsiagaan sistem peringatan dini tsunami,” pungkasnya.