Kamis, 24 Sep 2026
Home
Search
Menu
Share
More
12 Sep 2026 04:03 - 3 menit reading

Dikunjungi 7.000 Orang, Omzet Bazar Murah di Bandung Tembus Rp2,2 Miliar

www.JendelaPeristiwa.com.ǁJawa Barat,12 September 2026-Omzet Bazar Murah Utama (Bazmut) yang digelar oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung selama 10 hari sejak 31 Agustus hingga 11 September 2026 tembus Rp 2,2 miliar.

Kepala Disdagin Kota Bandung, Ronny Ahmad Nurudin mengatakan, rata-rata setiap titik bazar dikunjungi 200 hingga 250 orang, secara keseluruhan pengunjung selama pelaksanaan program ini diperkirakan mencapai sekitar 7.000 orang.

“Untuk omzet sampai hari kemarin mencapai Rp1,9 miliar. Dengan tambahan tiga titik hari ini, kurang lebih total omzetnya mencapai Rp2,2 miliar,” ujarnya saat ditemui di Lapang Puter, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (11/9/2026).

Ia mengatakan, pelaksanaan Bazmut tersebar di seluruh 30 kecamatan. Pada hari terakhir, bazar tersebut digelar serentak di Kecamatan Coblong, Cidadap, dan Bojongloa Kaler.

Selama bazar ini, kata dia, komoditas yang paling banyak diburu masyarakat adalah beras, Minyakita, dan telur. Ketiga komoditas itu menjadi kebutuhan utama karena harganya relatif terjangkau dan distribusinya tersedia dalam jumlah besar.

“Yang paling banyak dicari masyarakat itu beras, Minyakita, dan telur. Saat ini kebutuhan protein yang paling terjangkau bagi masyarakat adalah telur,” kata Ronny.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, Bazmut merupakan bentuk intervensi pemerintah untuk memperluas akses masyarakat terhadap berbagai kebutuhan pokok dengan harga yang lebih rendah dibandingkan harga pasar.

“Hari ini di Lapangan Puter kita menggelar Bazar Murah Bandung Utama. Bazar Murah ini digelar selama dua minggu berturut-turut. Tujuannya untuk membantu masyarakat mendapatkan akses terhadap barang-barang murah yang kita subsidi,” ucap Farhan.

Ia mengatakan, pelaksanaan bazar melibatkan berbagai pihak, mulai dari Perum Bulog, pelaku UMKM sektor pertanian, distributor pangan, kerajinan tangan hingga mitra ritel modern.

Melalui kolaborasi tersebut, kata Farhan, masyarakat dapat memperoleh berbagai komoditas dengan harga rata-rata sekitar 20 persen lebih murah dibandingkan harga pasaran.

Menurut Farhan, program ini bukan semata-mata untuk mengendalikan inflasi, melainkan memberikan kesempatan bagi masyarakat memperoleh kebutuhan sehari-hari dengan harga yang lebih ringan di tengah dinamika pasar.

“Terpenting saat ini adalah memastikan distribusi barang kebutuhan pokok ke Kota Bandung tetap lancar dan melimpah. Karena kondisi harga di Kota Bandung sangat bergantung pada distribusi,” ujarnya.

Farhan mengatakan, sejumlah komoditas yang tersedia dalam bazar antara lain beras SPHP, telur, daging ayam, sayur-mayur, hingga Minyakita. Khusus beras SPHP, pemerintah memberikan subsidi melalui Bulog, sementara komoditas lainnya mendapat dukungan berupa diskon dari distributor dan pelaku usaha.

Ia memastikan, ketersediaan bahan pokok di Kota Bandung secara umum masih aman dan tidak mengalami kelangkaan, tetapi ada perbedaan antara ketersediaan beras secara umum dan jenis beras premium yang saat ini pasokannya terbatas karena tingginya permintaan pasar.

“Kalau ditanya apakah beras langka, tidak. Beras tersedia. Tetapi untuk beras premium memang sedang lebih sulit ditemukan karena mekanisme pasar dan permintaannya tinggi. Sementara beras SPHP dikendalikan pemerintah sehingga tetap tersedia,” kata Farhan.