Minggu, 09 Agu 2026
Home
Search
Menu
Share
More
8 Agu 2026 05:47 - 5 menit reading

4 Bulan Menumpuk, Gunungan Sampah di Gang Bahagia Cirebon Akhirnya Diangkut, 10 Truk Dikerahkan

www.JendelaPeristiwa.com.ǁJawa Barat,8 Agustus 2026-Setelah sekitar empat bulan menjadi gunungan sampah yang mengganggu warga, kondisi di Gang Bahagia, Desa Karangmulya, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, akhirnya mulai berubah.

Bukan lagi hanya petugas dengan gerobak yang berjibaku mengatasi tumpukan sampah.

Kali ini, eskavator diturunkan ke gang sempit tersebut untuk mengeruk gunungan sampah, kemudian memindahkannya ke truk pengangkut.

Sedikitnya sekitar 10 mobil bak diperkirakan dikerahkan untuk mengangkut sampah yang selama berbulan-bulan menumpuk di lokasi tersebut.

Pantauan di lokasi, Sabtu (8/8/2026), memperlihatkan alat berat eskavator mulai bekerja di tengah permukiman warga.

Lengan eskavator berkali-kali mengeruk tumpukan sampah yang memenuhi badan gang.

Sampah yang berhasil dikeruk kemudian dimasukkan ke bak truk sampah berwarna hijau yang telah menunggu di lokasi.

Aktivitas tersebut membuat proses pembersihan berlangsung lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Sejumlah petugas kebersihan tampak mengawasi proses pengerukan dan membantu pengangkutan sampah.

Deretan truk sampah bahkan terlihat terparkir di sepanjang jalan raya di sekitar lokasi.

Warga Desa Karangmulya, Rahadi (30), menyambut lega proses pembersihan tersebut.

Ia mengaku mewakili warga sekitar, khususnya kawasan Pasar Plumbon, berterima kasih karena persoalan sampah yang sebelumnya ramai diberitakan kini mulai mendapat penanganan.

“Assalamualaikum, lapor perwakilan dari warga Karangmulya khususnya Pasar Plumbon, berterima kasih atas viralnya sampah oleh kawan-kawan reporter. Sampah hari ini diangkut semua,” ujar Rahadi , Sabtu (8/8/2026).

Rahadi memperkirakan jumlah kendaraan yang digunakan untuk mengangkut sampah tersebut mencapai sekitar 10 mobil bak.

“Perkiraan sih 10 mobil baknya,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan DLH Kabupaten Cirebon, Suyanto mengatakan, proses pembersihan gunungan sampah di Karangmulya ditargetkan dapat diselesaikan dalam waktu satu hingga dua hari.

Menurutnya, sekitar 10 armada dapat dikerahkan untuk mempercepat proses pengangkutan.

“Mudah-mudahan satu sampai dua hari selesai, mungkin bisa 10 mobil,” jelas Suyanto.

Ia mengatakan, penanganan tumpukan sampah juga dilakukan di wilayah lain.

Salah satunya TPS di Arjawinangun yang menurutnya kini sudah selesai dibersihkan.

“Selain di Karangmulya, TPS di Arjawinangun juga sudah clear,” katanya.

Bahkan, proses pengangkutan sampah di Arjawinangun melibatkan puluhan armada.

“Arjawinangun sudah clear, total 80 armada yang ngangkut,” ujar dia.

Empat Bulan Jadi Keluhan Warga

Sebelum eskavator turun dan armada pengangkut dikerahkan, gunungan sampah di Gang Bahagia Karangmulya telah menjadi persoalan warga selama sekitar empat bulan.

Tumpukan sampah tersebut bahkan sempat mencapai ketinggian hampir dua meter dan menutup sebagian akses jalan.

Lokasinya hanya sekitar 50 meter dari Pasar Rumput Plumbon dan sekitar 100 meter dari kawasan permukiman warga.

Pantauan pada Jumat (31/7/2026) sebelumnya memperlihatkan sampah rumah tangga menggunung di sisi gang hingga menempel pada dinding permukiman.

Sampah plastik, sisa makanan, dedaunan hingga potongan kayu meluber ke badan jalan.

Bak kontainer sampah berwarna hijau juga terlihat penuh.

Kondisi tersebut membuat kendaraan roda empat tidak dapat melintas.

Pengendara sepeda motor pun harus bergantian melewati ruas jalan yang tersisa.

Pejalan kaki bahkan terlihat menutupi hidung ketika melintas karena aroma busuk yang menyengat.

Bukan hanya persoalan akses jalan, warga juga mengeluhkan munculnya lalat dan belatung, terutama ketika hujan turun.

Lukman (59), pemilik rumah kontrakan yang berada tepat di depan lokasi, menjadi salah satu warga yang paling terdampak.

“Ya, jelas terganggu. Yang paling mengganggu itu baunya. Kalau hujan, ulatnya banyak sekali. Lalat juga kalau pintu dibuka langsung masuk ke rumah,” ujar Lukman.

Menurut Lukman, kondisi tersebut berlangsung selama sekitar empat bulan.

Padahal sebelumnya, sampah di lokasi rutin diangkut beberapa kali dalam sepekan.

“Dulu seminggu bisa tiga sampai empat kali diangkut. Sekarang paling seminggu sekali. Akhirnya sampah terus mengendap sampai seperti ini,” ucapnya.

Tumpukan sampah juga berdampak terhadap aktivitas usaha Lukman yang menyewa bangunan di lokasi tersebut untuk tempat bongkar muat pisang.

“Kalau dulu mobil bisa langsung bongkar di depan. Sekarang harus berhenti lebih jauh. Mau pindah juga sulit karena lokasi ini dekat pasar,” jelas dia.

Kondisi semakin buruk ketika hujan turun.

“Kalau hujan semakin parah. Belatung makin banyak, lalat bertambah, baunya juga makin menyengat,” katanya.

Ia berharap pengangkutan sampah kembali dilakukan secara rutin.

“Harapan saya sederhana, kalau bak sampah sudah penuh ya langsung diangkut. Jangan sampai mengendap berhari-hari, apalagi berbulan-bulan seperti sekarang,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Suta (60), petugas parkir Pasar Rumput Plumbon.

Menurutnya, gunungan sampah membuat kawasan pasar terlihat kumuh dan ikut memengaruhi aktivitas parkir.

“Yang dirasakan ya kumuh. Kalau musim hujan banyak belatung, lalat juga. Orang yang parkir di sini banyak yang pindah karena bau dan jalannya becek,” ucap Suta.

Suta mengatakan kondisi tersebut mulai terjadi setelah Lebaran dan belum kembali normal.

“Sebelumnya tidak begini. Dulu kalau bak penuh langsung diangkut. Sekarang sudah sekitar empat bulan seperti ini,” jelasnya.

Ia memperkirakan tinggi tumpukan sampah telah mencapai lebih dari dua meter.

“Ini hampir dua meter lebih tingginya. Jalan sebenarnya sudah ketutup, makanya orang jadi malas lewat ke sini,” katanya.

Kini, setelah empat bulan menjadi keluhan, gunungan sampah tersebut mulai dikeruk menggunakan alat berat.

Bagi warga Karangmulya, kehadiran eskavator dan armada pengangkut menjadi tanda bahwa akses gang serta lingkungan mereka perlahan kembali dibersihkan.

Rahadi pun berharap persoalan tersebut tidak kembali terulang setelah gunungan sampah selesai diangkut.

“Baunya sangat tidak enak dan mengganggu. Bisa menimbulkan penyakit juga, apalagi di sini banyak anak-anak dan permukimannya padat,” ucap Rahadi sebelumnya.

Ia juga mengingatkan agar pengangkutan dilakukan secara rutin.

“Pernah diangkut cuma sekali. Setelah itu numpuk lagi. Kalau hujan malah lebih parah karena sampah bisa menyumbat gorong-gorong dan menyebabkan genangan,” jelas dia.

Kini, setelah eskavator turun dan sekitar 10 armada disiapkan, warga berharap Gang Bahagia tak lagi kembali menjadi lautan sampah seperti empat bulan sebelumnya.

“Harapannya ya segera diangkut supaya bersih lagi seperti tahun-tahun sebelumnya,” katanya.