
www.JendelaPeristiwa.com.ǁJawa Barat,1 Maret 2026-Lautan manusia memenuhi Lapangan Mandala Giri, Desa Kedungjaya, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Sabtu (28/2/2026) malam. Di tengah lantunan selawat dan suasana yang bergelora, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengangkat persoalan Vina, perempuan asal Desa Gombang yang diduga terseret praktik nikah pesanan di luar negeri.
Dari panggung Safari Ramadan bertajuk ‘Tarling Neuleuman Poekna Peuting’, Gubernur yang akrab disapa KDM ini menyatakan komitmen pemerintah provinsi untuk terlibat langsung menangani persoalan tersebut.
“Aspek komunikasi, insyaallah nanti ditangani (kasus Vina warga Gombang), akan dijemput seperti warga yang lain ketika di luar negeri. Nanti saya sampaikan ke Bupati datanya,” ujar Dedi, dalam sambutannya, Sabtu (28/2/2026) malam.
Ucapan itu segera memantik tepuk tangan panjang dari warga yang memadati area acara.
Sentil Janji Mahar Mewah
Dalam kesempatan yang sama, Dedi menyinggung fenomena perempuan Jawa Barat yang tergoda tawaran pernikahan ke luar negeri dengan iming-iming materi.
“Banyak sekali perempuan Jawa Barat ini yang mudah tergoda oleh janji uang, janji dinikahi dengan mahar yang mewah. Pada akhirnya, seluruh janji itu tidak ditepati, seperti janjinya politisi,” ucapnya, disambut tawa hadirin.
Ia kemudian menambahkan dengan nada berkelakar.
“Tepuk tangan! Saya politisi,” jelas dia.
Dedi juga menekankan bahwa kepemimpinan, menurutnya, tak boleh terbelenggu identitas politik maupun kelompok tertentu.
“Saya tidak akan pernah memimpin membicarakan dari mana partainya, dari mana golongannya, dari mana ormasnya. Seluruh atribut itu hilang ketika kita jadi pemimpin. Yang ada hanya satu: kepentingan rakyat yang harus lebih utama dari kepentingan pribadi,” katanya.
Ia turut mengulas pentingnya kolaborasi antara pemerintah provinsi dan kabupaten dalam pembangunan.
“Yang jelek, yang becek, yang bolong bisa dibikin halus selama bupatinya dengan gubernur bisa bekerja sama untuk membangun. Orang provinsinya banyak nanti memberikan jalan buat kabupaten. Kabupatennya harus banyak mampir untuk pembangunan Jawa Barat,” ujarnya.
Kegiatan tersebut dihadiri penceramah Gus Miftah Maulana Habiburokhman, Bupati Cirebon Imron, jajaran Forkopimda Kabupaten Cirebon, anggota DPRD Provinsi dan Kabupaten Cirebon, hingga perangkat Desa Kedungjaya.
Video Call 25 Menit
Sebelum pernyataan itu digaungkan di hadapan publik, Vina telah lebih dulu berkomunikasi langsung melalui panggilan video dengan Dedi Mulyadi selama kurang lebih 25 menit pada hari yang sama.
“Responsif, om nanya kronologi. Vina ceritakan yang jujur biar gak blunder nanti ke Vina-nya,” ujar Vina saat berbincang dengan Tribun.
Dalam percakapan tersebut, ia mengaku sempat mendapat teguran.
“Dia (Gubernur) sempet marahin Vina, katanya kenapa mau ya. Tapi Vina terima, karena memang ada kesalahan Vina juga kan,” ucapnya.
Vina menyampaikan harapannya untuk dapat segera kembali ke Indonesia.
“Vina minta dibantu pulang pak, soalnya semua berkas ditahan. Vina gak tahu kalau mereka agen,” jelasnya.
Ia juga diminta untuk membagikan informasi lokasi serta nomor pihak yang terlibat.
“Disuruh share location, kirim nomor pelaku sama kontak,” katanya.
Walaupun telah memperoleh respons dari gubernur, rasa cemas masih membayangi dirinya.
“Sebenarnya Vina juga takut pak, dilihat sama pihak mereka dan nanti malah bilang ke orang yang di sini.”
Namun ia mengaku mendapat peneguhan.
“Katanya enggak, tenang aja. Kamu bakal dijemput orang KBRI. Semangat, kamu masih punya pemimpin di Jawa Barat,” tuturnya menirukan pesan yang diterimanya.
Dari tangkapan layar panggilan video yang diterima Tribun, Dedi terlihat mengenakan busana putih lengkap dengan penutup kepala tradisional, berlatar pintu kayu berukir. Pada sudut bawah layar tampak wajah Vina dalam jendela kecil. Durasi percakapan tercatat sekitar 25 menit.
Berawal dari Lingkungan Kerja
Peristiwa ini berawal dari perkenalan Vina di tempatnya bekerja di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta. Ia mengaku sejak awal mengetahui ajakan menikah tersebut, namun tidak memahami adanya dugaan jaringan terorganisir di baliknya.
“Sebenernya Vina memang setuju di awal dan tahu diajak nikah. Tapi sumpah demi Allah Vina gak tahu kalau mereka gerombolan agen dan sindikat. Vina tahunya setelah tiba di China,” katanya.
Sesampainya di China, keadaan disebut berubah. Ia menyatakan sempat menerima ancaman ketika hendak membatalkan pernikahan.
“Vina bilang batalin aja gak jadi, tapi sudah terlanjur jebur. Gara-gara Vina banyak penolakan, masuklah ancaman pertama. Polisi setempat juga tahu karena Vina sempat kabur,” ujarnya.
Ia memastikan tidak ada kontrak tertulis sebelum keberangkatan.
“Gak ada perjanjian atau kontrak, karena Vina pure gak tahu. Pembahasan mahar juga baru H-2,” ucapnya.
Kuasa hukum keluarga dari YLBHI Garuda Sakti sebelumnya menyampaikan bahwa rombongan warga negara asing tercatat datang hingga empat kali ke rumah Vina di Gombang sebelum keberangkatannya pada 7 Agustus 2025.
Kasus ini menjadi perhatian publik setelah video Vina yang menangis dan memohon bantuan kepada Gubernur Jawa Barat menyebar luas di media sosial.