www.JendelaPeristiwa.com.ǁJawa Barat,30 Juni 2026-Pemkot Bandung akan memanfaatkan air Sungai Cikapundung untuk meningkatkan cakupan layanan air bersih PDAM bagi masyarakat karena saat ini baru mencapai 38 persen dari total kebutuhan warga.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan, saat ini pihaknya fokus meningkatkan cakupan dari 38 persen menjadi 40 persen secara bertahap karena sumber air baku di Kota Bandung terbatas.
“Kenapa tidak bisa langsung ke 100 persen? karena sumber air baku di Kota Bandung sudah tidak ada. Kita membeli semuanya dari provinsi dan kabupaten,” ujarnya di Pendopo Kota Bandung, Senin (29/6/2026).
Untuk mengejar target itu, Pemkot Bandung tengah melakukan inovasi melalui percobaan penyulingan atau filterisasi air Sungai Cikapundung. Air hasil pengolahan tersebut direncanakan dimanfaatkan untuk kebutuhan non-konsumsi.
“Air Sungai Cikapundung akan digunakan sebagai air bersih untuk kepentingan non-konsumsi, seperti untuk bersih-bersih, mandi, dan lain-lain,” kata Farhan
Selain itu, salah satu langkah strategis yang tengah ditempuh adalah melanjutkan pembicaraan investasi pembangunan jaringan pipa air baku dari Waduk Saguling dan Cirata menuju Kota Bandung.
“Kita sedang melanjutkan pembicaraan investasi pembangunan pipa dari Saguling dan Cirata sebanyak 3.500 liter per detik ke Kota Bandung. Semua sudah siap, tapi sampai hari inibelum mendapatkan persetujuan dari Indonesia Power,” ucapnya.
Ia mengatakan, proses itu masih menghadapi sejumlah kendala teknis, terutama terkait ketersediaan air pada musim kemarau. Menurutnya, ketika debit air di kawasan pembangkit berkurang, pasokan air untuk Kota Bandung pun berpotensi terganggu.
“Dalam keadaan musim kemarau, kalau air di Indonesia Power (Saguling) kurang, ya kita tidak bisa dapat air. Maka itu masih jadi pembicaraan secara teknis yang tidak mudah sama sekali,” kata Farhan.
Di sisi lain, Pemkot Bandung terus berupaya menekan tingkat kebocoran jaringan air. Tingkat kehilangan air yang sebelumnya mencapai 40 persen kini berhasil ditekan menjadi 37 persen berkat kerja sama dengan sejumlah perusahaan serta dukungan dari Pemerintah Jepang.