
www.JendelaPeristiwa.com.ǁJawa Barat,5 Mei 2026-Upaya pencarian bocah 11 tahun yang hanyut di Sungai Kriyan, Kota Cirebon, terus dimaksimalkan.
Tim SAR gabungan membagi area pencarian menjadi tiga sektor dengan fokus utama pada radius 500 meter pertama dari titik awal korban diduga terjatuh.
Pantauan di lokasi, Selasa (5/5/2026) pagi, sejumlah personel dari BPBD, TNI, Polri, Polairud dan Basarnas tampak bersiaga di bantaran sungai.
Beberapa perahu karet bermesin dikerahkan menyisir aliran sungai yang berwarna cokelat keruh.
Di darat, petugas lain memantau pergerakan tim air dari tepi sungai yang terjal dan dipenuhi semak serta sampah yang tersangkut di pepohonan.
Koordinator Basarnas Pos SAR Cirebon, Syarif Prabowo menjelaskan, bahwa strategi pencarian hari ini difokuskan dengan pembagian sektor untuk memperluas jangkauan sekaligus mempercepat proses pencarian.
“Baik, untuk teknis pada hari ini, pencarian kita bagi menjadi tiga sektor. Jarak dari LKP ke muara itu sekitar 1,5 kilometer. Jadi, kita bagi tiga sektor per 500 meteran,” ujar Syarif, saat diwawancarai di lokasi, Selasa (5/5/2026).
Tim SAR gabungan mengerahkan sejumlah alat utama berupa perahu karet dan perahu fiber untuk menyisir aliran sungai dari titik awal hingga ke arah muara.
“Di sini kita menggunakan empat alut; dari LCR dua alut dan fiber dua alut. Jadi kita maksimalkan dari titik LKP sampai ke muara,” ucapnya.
Sebanyak 78 personel gabungan diterjunkan dalam operasi pencarian ini.
Mereka terbagi dalam tim penyisiran air dan tim darat yang menyisir tepian sungai menggunakan metode body rafting.
“Untuk personel yang terdata dari tim SAR gabungan tercatat sekitar 78 personel,” jelas dia.
Kondisi arus sungai yang sempat deras pada hari sebelumnya menjadi kendala tersendiri.
Namun, pada hari ini arus terpantau lebih tenang sehingga diharapkan dapat mempermudah proses pencarian.
“Untuk informasi dari kemarin, arus cukup deras. Kemudian alhamdulillah hari ini terpantau cukup tenang arusnya. Semoga tidak ada arus susulan dari hulu yang akan mendorong korban ini sampai ke muara,” katanya.
Meski begitu, upaya pencarian menggunakan teknologi drone thermal belum membuahkan hasil.
Faktor cuaca dan suhu air yang menurun diduga memengaruhi kemampuan deteksi alat tersebut.
“Baik, untuk dari drone thermal kita sudah maksimalkan, namun tidak terdeteksi. Mengingat cuaca sudah turun hujan dan untuk suhunya juga sudah mulai dingin, jadi tidak begitu terpantau oleh drone thermal,” ujarnya.
Tim SAR hingga kini masih mengandalkan penyisiran permukaan air dan tepian sungai.
Opsi penerjunan penyelam masih dalam pertimbangan.
“Sampai saat ini masih kita lakukan penyisiran menggunakan alut serta penyisiran menggunakan body rafting di pinggiran-pinggiran sungai. Nanti untuk ke depannya apakah kita perlu tim penyelam atau tidak, semoga nanti kita infokan,” ucap Syarif.
Syarif menegaskan, meski pencarian dilakukan hingga radius 1,5 kilometer menuju muara, fokus utama tetap berada di 500 meter awal dari titik lokasi korban terakhir terlihat.
“Untuk dari LKP itu kita tetap maksimalkan jarak sampai ke muara, itu 1,5 kilo. Namun kita tetap titik fokus itu di 500 meter awal,” jelas dia.
Diketahui, peristiwa nahas ini terjadi pada Senin (4/5/2026) sore di sekitar Jembatan Kesunean, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk.
Korban, Afandi Akbar (11), hanyut saat bermain di sungai bersama tiga temannya usai hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
Sempat terlihat mengangkat tangan meminta pertolongan, korban akhirnya hilang terbawa arus deras.
Dari empat anak yang bermain, dua berhasil selamat, sementara satu lainnya sempat terbawa arus namun berhasil menyelamatkan diri.
Hingga kini, proses pencarian masih terus dilakukan.
Warga yang memadati lokasi hanya bisa menunggu dengan harap, sementara tim SAR berpacu dengan waktu menyisir derasnya aliran Sungai Kriyan.