Rabu, 22 Apr 2026
Home
Search
Menu
Share
More
22 Apr 2026 03:49 - 4 menit reading

Misi Dedi Mulyadi Pulihkan Bandung: Penanganan Banjir dan Sampah, Soroti Kekumuhan dan Lampu Merah

www.JendelaPeristiwa.com.ǁJawa Barat,22 April 2026-Upaya mengangkat kembali citra Kota Bandung sebagai pusat pemerintahan Jawa Barat kini didorong lebih serius oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Ia menilai, pembenahan menyeluruh menjadi langkah penting agar identitas Bandung sebagai ibu kota provinsi kembali terpancar dengan kuat. Menurutnya, kondisi kota saat ini memerlukan sentuhan perbaikan yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

Ia menegaskan bahwa perubahan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata. Peran masyarakat dinilai krusial untuk menciptakan wajah kota yang lebih tertata.

Dengan keterlibatan bersama, ia berharap Bandung bisa kembali tampil sebagai kota yang bersih, nyaman, sekaligus sedap dipandang.

Dalam pesannya, Dedi turut menyampaikan apresiasi kepada aparatur sipil negara yang telah berkontribusi menjaga lingkungan kerja masing-masing.

Ia mendorong agar kebiasaan menjaga kebersihan tidak hanya dilakukan sesekali, melainkan menjadi rutinitas harian yang konsisten dilakukan.

“Wilujeng enjing seluruh ASN Pemprov Jabar, dan ASN Kota Bandung, saya mengucapkan terima kasih ya. Terus bahu-membahu setiap hari membersihkan lingkungannya masing-masing satu kilometer menuju kantornya harus dalam keadaan bersih, tertata, indah, dan berestetika,” tutur Dedi, dikutip dari akun Instagram Dedi Mulyadi, Rabu (22/4/2026).

Ia juga memberikan penghargaan kepada masyarakat yang telah berperan aktif dalam mendukung berbagai program penataan kota.

Partisipasi publik dianggap menjadi elemen penting dalam menghidupkan kembali karakter Bandung sebagai kota yang memiliki daya tarik sekaligus fungsi strategis di masa depan.

Dalam penilaiannya, persoalan sampah masih menjadi tantangan yang perlu segera diselesaikan. Ia menyoroti masih adanya tumpukan sampah di sejumlah titik yang dinilai mengganggu estetika sekaligus kenyamanan kota. Penanganan cepat dan tepat menjadi hal yang tidak bisa ditunda.

“Kita paham ada beberapa hal yang harus segera dibenahi. Pertama, sampahnya harus segera tertangani dengan baik, tidak boleh lagi ada tumpukan gundukan di berbagai sudut kota,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa Tempat Pembuangan Akhir Sampah di Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat, telah disiapkan untuk menampung sampah kota. Bahkan, fasilitas tersebut direncanakan akan dikembangkan lebih lanjut menjadi sumber energi melalui pengolahan sampah berbasis pembangkit listrik.

Selain persoalan sampah, perhatian juga diarahkan pada fasilitas penerangan jalan umum yang harus berfungsi optimal. Ia menilai, keberadaan lampu jalan yang menyala dengan baik menjadi faktor penting dalam menciptakan rasa aman sekaligus mendukung aktivitas warga.

“Yang kedua, PJU-nya tidak boleh ada yang mati. Semuanya harus terang, dan Pemprov Jabar berkomitmen untuk memasang PJU di seluruh sudut Kota Bandung, terutama di jalan-jalan provinsi. CCTV-nya harus terintegrasi dengan baik,” tuturnya.

Penguatan sistem pengawasan melalui kamera pemantau juga disebut harus berjalan terintegrasi. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan keamanan sekaligus mendukung pengelolaan kota berbasis teknologi.

Di sisi lain, sistem drainase kota juga menjadi perhatian serius. Ia menilai saluran air yang tidak berfungsi optimal dapat memicu genangan hingga banjir, terutama saat curah hujan tinggi. Oleh karena itu, perbaikan menyeluruh dinilai menjadi kebutuhan mendesak.

“Drainasenya harus segera dipulihkan agar air bisa mengalir, ke daerah-daerah yang lebih rendah dan tidak menimbulkan banjir, sehingga drainase bebas dari sampah, bebas dari berbagai hambatan,” ucap Dedi.

Dedi Mulyadi pun mencermati bahwa Kota Bandung saat ini harus dibenahi supaya terhindar dari kesan kumuh, dengan menjaga keindahan setiap sudut kota.

“Bandung juga harus segera dikembalikan dari kekumuhan, sehingga sudut-sudut kota terasa indah dan tertata, bukan menjadi sudut-sudut kekumuhan. Dan ini sangat penting karena Bandung merupakan ikon Provinsi Jawa Barat, pusat kepariwisataan dari berbagai daerah, mancanegara datang ke kota, Bandung bahkan sebagai pusat kota belanja,” katanya.

Ia kemudian mencermati penataan bangunan-bangunan ikonik harus tetap dijaga dan dipelihara dengan memperhatikan tata ruang dan tata bangunan, tidak memaksakan bangunan-bangunan baru semakin menambah kesumpekan Kota Bandung.

Tak hanya infrastruktur dasar, penataan transportasi juga menjadi fokus utama. Ia menilai kemacetan yang kerap terjadi perlu diatasi melalui sistem transportasi publik yang terintegrasi. Pengembangan jaringan transportasi dinilai menjadi solusi jangka panjang bagi mobilitas warga di kawasan Bandung Raya.

“Kemacetan harus ditangani dengan membangun transportasi publik terintegrasi di seluruh Bandung Raya dan berbagai daerah titik kemacetan bisa disiasati dengan membangun underpass atau jembatan layang,” tambahnya.

Selain itu, ia juga mengusulkan penerapan sistem lampu lalu lintas berbasis digital. Teknologi ini diharapkan mampu menyesuaikan durasi lampu sesuai kondisi kepadatan kendaraan secara real-time.

“Traffic light-nya harus digital tidak boleh manual seperti hari ini, sehingga bisa membaca perkembangan dan dinamika jumlah kendaraan yang lewat sehingga menyesuaikan dengan jumlah kendaraan yang lewat,” tegasnya.

Di bagian akhir, ia menyampaikan apresiasi terhadap sinergi yang terjalin antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bandung. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam mengembalikan karakter Bandung sebagai kota yang anggun dan berwibawa.

“Saya ucapkan terima kasih buat Pak Wali Kota Bandung, yang setiap hari bahu-membahu dengan Pemprov Jabar untuk mengembalikan kharisma, wibawa, dan keanggunan Kota Bandung,” katanya.