Rabu, 22 Apr 2026
Home
Search
Menu
Share
More
21 Apr 2026 03:52 - 2 menit reading

Pesan Haru Guru Syamsiah atas Penghinaan di SMAN 1 Purwakarta: Pilih Membina Karakter daripada Hukum

www.JendelaPeristiwa.com.ǁJawa Barat,21 April 2026-Wakil Bupati Purwakarta, Abang Ijo Hapidin, menyoroti pentingnya evaluasi dunia pendidikan menyusul kasus dugaan pelecehan oleh siswa terhadap guru di SMAN 1 Purwakarta.

Ia menekankan bahwa pembentukan karakter dan moral harus menjadi prioritas, sejalan dengan sikap guru Syamsiah yang memilih memaafkan siswanya.

Kasus dugaan pelecehan terhadap guru di SMAN 1 Purwakarta tak hanya menjadi perhatian publik, tetapi juga mendapat respons dari Wakil Bupati Purwakarta, Abang Ijo Hapidin.

Dirinya mengaku prihatin atas peristiwa tersebut, terutama karena dinilai mencerminkan menurunnya etika dan moral di kalangan pelajar.

“Pada dasarnya ini menjadi bahan evaluasi. Bagaimana anak-anak kita bisa berkualitas kalau gurunya juga tidak berkualitas. Ini harus menjadi perhatian bersama,” ujar Abang Ijo kepada wartawan di SMAN 1 Purwakarta, Senin (20/4/2026).

Dirinya menegaskan, kejadian ini harus menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk melakukan pembenahan, khususnya dalam sistem pendidikan dan kualitas tenaga pendidik.

“Peristiwa ini sangat miris. Anak-anak kita terlihat tidak memiliki etika dan moral. Maka ke depan harus ada evaluasi menyeluruh, termasuk di tingkat sekolah,” katanya.

Meski demikian, di tengah sorotan tersebut, Abang Ijo juga menyinggung sikap guru PKN SMAN 1 Purwakarta, Syamsiah, yang memilih memaafkan para siswa yang diduga melakukan pelecehan. Sikap tersebut dinilai sebagai contoh keteladanan dalam dunia pendidikan.

Syamsiah sebelumnya menyatakan telah memaafkan para siswa dan bahkan mendoakan mereka agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Syamsiah menegaskan tidak akan membawa kasus ini ke ranah hukum karena ingin fokus membina karakter anak didiknya.

Menanggapi hal itu, Abang Ijo menekankan bahwa pendidikan tidak hanya soal akademik, tetapi juga pembentukan karakter.

“Saya hari ini bisa menjadi wakil bupati karena modal etika, attitude, dan menghargai sesama. Percuma mengejar ilmu setinggi mungkin kalau tidak punya moral dan akhlak,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tanggung jawab pendidikan karakter tidak hanya berada di sekolah, tetapi juga dimulai dari lingkungan keluarga.

“Peran orang tua sangat penting. Anak-anak harus dididik dari rumah soal adab, moral, dan akhlak. Guru di sekolah melengkapi,” ujarnya.

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Purwakarta berencana melakukan penguatan sistem pendidikan, termasuk kemungkinan pengetatan regulasi di tingkat sekolah sebagai bagian dari reformasi birokrasi pendidikan.

“Kami berharap ini jadi bahan evaluasi. Dari sekolah kita bisa menciptakan anak-anak yang berkualitas, baik dari sisi ilmu maupun akhlak,” ujarnya.