
www.JendelaPeristiwa.com.ǁJawa Barat,3 Maret 2026-Di tengah hamparan pegunungan Kabupaten Subang, Jawa Barat, para santri Pondok Pesantren Kebangsaan Siti Aminah menjalani keseharian yang berbeda dari kebanyakan pesantren. Selain mengaji dan memperdalam ilmu agama, mereka terbiasa menggenggam cangkul, menanam bibit, hingga merawat ternak sebagai bagian dari program ketahanan pangan pesantren.
Inilah potret keseharian santri di pesantren yang berada di Kampung Cigore, Desa Tenjolaya, Kecamatan Kasomalang. Di tempat ini, pendidikan agama berjalan berdampingan dengan praktik nyata kemandirian pangan. Para santri tak hanya belajar kitab, tetapi juga turun langsung mengelola pertanian dan peternakan sebagai bagian dari program ketahanan pangan pesantren.
pada Senin (2/3/2026), santri tampak kompak bekerja di lahan pertanian yang membentang seluas sekitar dua setengah hektare. Beragam komoditas ditanam, mulai dari cabai, jagung, kacang-kacangan, hingga durian. Di sudut lain area pesantren, kandang kambing dan ternak lainnya terawat rapi, menjadi sumber protein bagi kebutuhan harian santri.
Lingkungan pesantren yang berada di kawasan pegunungan dengan lahan kosong dan perkebunan di sekelilingnya menjadi modal kuat untuk menerapkan konsep pertanian terpadu. Semua dikerjakan bersama, dari proses menanam, merawat, hingga memanen.
Raffi Akbar Wisnu (17), salah satu santri, mengaku mendapatkan bekal hidup yang tak ia temukan di pesantren lain. Selama lima tahun mondok, ia belajar bukan hanya soal agama, tetapi juga keterampilan bertani dan merawat ternak.
“Di sini saya udah 5 tahun. Terus kenapa milih pesantren ini, karena dari sekian banyaknya pesantren yang saya lihat, cuma pesantren ini yang mendidik karakternya, mendidik semua untuk kehidupannya untuk di masyarakat. Untuk bekal nanti lulus juga,” ucap Raffi, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, pendidikan karakter dan kemandirian menjadi alasan utama memilih pesantren ini sebagai tempat belajar dan membentuk masa depan. Sementara itu, para santriwati juga dilibatkan aktif dalam kegiatan pesantren. Devi Puspitasari (16) mengatakan, sejak mondok ia terbiasa memasak dan mengurus kebutuhan sehari-hari secara mandiri bersama teman-temannya.
Dari dapur pesantren, kata Devi, makanan sehat dan bergizi disiapkan untuk seluruh santri, tanpa rasa kekurangan sedikit pun.
“Pesantren kita itu adalah pesantren yang mandiri. Kami disini jadi terbiasa memasak sendiri, mencuci sendiri bereng teman-teman. Kami juga untuk bahan baku makanan hampir tidak pernah untuk beli, biasanya mencari bahan baku sendiri di kebun yang kita kelola. Oleh karena itu pesantren kita menyiapkan makanan-makanan yang bermutu, makanan-makanan yang sehat dan bergezi untuk seluruh santri, apalagi di bulan puasa gini, makanannya harus yang bergizi,” kata Devi.
Menariknya, seluruh proses pendidikan di pesantren ini dijalankan tanpa memungut biaya. Mayoritas santri berasal dari kalangan kurang mampu, yatim piatu, hingga anak-anak yang sebelumnya hidup di jalanan. Dengan mengelola pangan secara mandiri, pesantren mampu menekan biaya operasional, terutama kebutuhan makan santri yang sepenuhnya ditanggung oleh pengelola.
Pengasuh Pondok Pesantren, Muhammad Abdul Mukmin, menjelaskan bahwa pesantren ini berdiri atas kepedulian terhadap kondisi moral dan sosial generasi muda.
“Selain pembinaan keagamaan, para santri diberdayakan di bidang pertanian dan peternakan agar kelak memiliki keahlian saat kembali ke masyarakat. Seluruh kebutuhan dasar, mulai dari makan, listrik, hingga air, disediakan secara penuh tanpa target pungutan dari orang tua santri,” kata Mukmin.
Konsep pembelajaran seperti ini, kata dia, dinilai inspiratif karena menyentuh sisi kemanusiaan. Santri tidak hanya dibentuk secara spiritual, tetapi juga dipersiapkan menjadi pribadi mandiri yang siap berkontribusi secara nyata.
“Diharapkan, lulusan pesantren ini kelak mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat, menggerakkan ekonomi lokal, menularkan semangat kemandirian, sekaligus menjadi teladan dalam membangun ketahanan pangan dari lingkungan pendidikan pesantren,” harap Mukmin.