Senin, 02 Mar 2026
Home
Search
Menu
Share
More
22 Feb 2026 08:21 - 2 menit reading

Polres Subang Bedah Rumah Ibu Een Korban Bencana Puting Beliung di Blanakan

www.JendelaPeristiwa.com.ǁJawa Barat,10 Januari 2026-Selama hampir dua bulan terakhir, Ibu Een (77) harus bertahan hidup di balik lembaran tenda yang tipis. Setiap hujan turun, dingin dan air bocoran menjadi teman setianya.

Rumah yang dulu ia tempati di Dusun Kertamukti, Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, rusak parah setelah diterjang angin puting beliung, memaksanya tinggal dalam keterbatasan.

Harapan itu akhirnya datang pada Jumat (9/1/2026). Polres Subang melalui program Bedah Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) memulai pembangunan rumah baru bagi Ibu Een. Kegiatan kemanusiaan tersebut dipimpin langsung Kapolres Subang AKBP Dony Eko Wicaksono.

Rumah Ibu Een sebelumnya mengalami kerusakan parah akibat diterjang bencana alam angin puting beliung, memaksa ia dan keluarganya bertahan hidup di tenda darurat.

Kapolres Subang menegaskan bahwa Polri hadir sebagai pelayan dan pelindung masyarakat yang mengedepankan empati serta kepedulian sosial.

“Melalui program Rutilahu ini, kami ingin memastikan bahwa negara benar-benar hadir di tengah masyarakat. Warga tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri ketika menghadapi kesulitan,” ujar Dony kepada wartawan di lokasi, Jumat (9/1/2026).

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama, dilanjutkan perobohan rumah lama yang sudah tidak layak huni serta peletakan batu pertama sebagai simbol dimulainya pembangunan rumah baru yang lebih aman dan layak.

Suasana kebersamaan dan gotong royong terasa kental sepanjang kegiatan yang berlangsung aman dan lancar tersebut.

Di hadapan para undangan, Ibu Een tak mampu menyembunyikan rasa haru dan syukurnya. Selama hampir dua bulan terakhir, ia bersama keluarga terpaksa tinggal di tenda dengan kondisi serba terbatas.

“Terima kasih kepada Bapak Kapolres Subang AKBP Dony Eko Wicaksono beserta seluruh jajaran yang sudah membantu membangunkan rumah untuk keluarga kami. Alhamdulillah, kami tidak harus tinggal di tenda lagi,” ucapnya.

Ia mengungkapkan, selama tinggal di tenda, keluarganya harus menghadapi dinginnya malam serta kebocoran saat hujan turun. Meski berat, kondisi tersebut terpaksa dijalani karena tidak ada pilihan lain.

“Walaupun dingin dan sering bocor saat hujan, ya harus dijalani. Sudah hampir dua bulan kami tinggal di tenda,” katanya.