
www.jendelaperistiwa.com.ǁJawa Barat,15 Juli 2025- Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tasikmalaya, Asep Goparullah, buka suara soal Kota Tasikmalaya dituding antimusik. Klaim itu datang setelah Hindia ditolak tampil di konser bertajuk Ruang Bermusik 2025.
Rencananya konser musik ini akan dihelat di Lanud Wiriadinata Tasikmalaya, Sabtu (19/7) sampai Minggu (20/7/2025).
Selain Hindia, konser ini juga diramaikan Nadin Amizah, Maliq and D’Essentials, Whisnu Santika, Lomba Sihir, Adnan Veron x HBRP, Feast, dan Perunggu.
Penolakan terhadap Hindia karena ada asumsi jika band kerap menampilkan aksi panggung yang dianggap tak selaras dengan nilai-nilai agama.
“Kalau kita, tidak antimusik, tidak seperti itu juga. Kan banyak musik-musik di sini digelar, termasuk juga kalau tidak salah dia (Hindia) pernah manggung di sini (Transmart) tahun 2023,” kata Asep Goparullah, Senin(14/7/2025).
Dia meminta semua pihak bisa menjaga kondusivitas sambil menunggu proses perizinan yang belum keluar dari Polda Jabar.
“Kita perlu dewasa termasuk di pemerintahan daerah. Karena hal-hal yang perlu dilakukan yang terpenting usulan-usulan pada saat forum menjadikan bahan, nanti pertimbangan itu kami menunggu dari pihak yang memberikan izin,” ungkapnya.
Menurutnya, yang terpenting, baik dari penyelenggara maupun masyarakat kota Tasikmalaya bisa menyikapinya semuanya dengan bijak.
Mengenai tanda pagar #KeluarTasikDuluAja di media sosial, ia menambahkan itu hal wajar.
“Tentunya ini perlu ada pemahaman kita bersama. Yang terpenting menjaga kerukunan, kemudian ada hal-hal yang perlu perbaiki kita perbaiki, kita selesaikan dengan baik,” ucap Asep.
Penolakan Hindia tampil di Kota Tasikmalaya dilontarkan beberapa elemen ormas Islam.
Rapat koordinasi pun sampai digelar empat kali bersama forkopimda dan Polres Tasikmalaya Kota. Tapi belum ada hasil karena rekomendasi perizinan ada di Polda Jabar.
Ketua Al Mumtaz di Kota Tasikmalaya, Hilmi Afwan, menegaskan Hindia terindikasi band satanic yang melanggar norma-norma syariat dengan pemahaman berbeda serta simbol.
“Yang dipermasalahkan band ini ada indikasi band satanic, band yang memang nyerempet pada norma-norma melanggar syariat, dengan pemahaman, simbol-simbol dajal, baphomet itu saja yang jadi permasalahan,” tegas Hilmi.
Menurutnya, ini adalah bagian dari propaganda regenerasi bangsa yang harus dijaga karena tentu sangat bahaya ketika memang diizinkan tetap tampil.
“Pemahaman satanic ini melanggar norma agama, seluruh agama pun tidak menghendaki, karena itu nuansa setan termasuk dajal. Semua agama pun bertolak belakang dengan pemahaman seperti itu,” ungkap dia.
Satanic adalah mengacu pada hal-hal yang berkaitan dengan atau menyerupai setan, atau yang sering dikaitkan dengan setan, seperti dalam kepercayaan dan praktik agama.