Senin, 02 Mar 2026
Home
Search
Menu
Share
More
22 Feb 2026 08:21 - 4 menit reading

Kokohnya Bangunan Tahan Gempa Tenjo Resmi di Sukabumi, Bantalan Karet Kuat Sampai 2 Abad

www.JendelaPeristiwa.com.ǁJawa Barat,17 Januari 2026-Bangunan tahan gempa Tenjo Resmi, Pasir Badak di Jalan Raya Citepus, Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menjadi bangunan tahan gempa pertama di Indonesia.

Bangunan memiliki 4 lantai, saat sampai melihat bangunan dari depan nampak sudah usang, cat berwarna merah muda sudah nampak pudar dari berbagai sisi.

Namun, kondisi itu ternyata tidak seberapa. Pasalnya, bangunan tahan gempa ini sangat kokoh.

Pantauan Tribunjabar.id, bangunan tahan gempa Tenjo Resmi ini dibangun dengan kontruksi panggung. Bagian bawah bangunan ditopang oleh bantalan karet.

Bukan bantalan karet biasa, bantalan karet yang dipakai di kontruksi bangunan tahan gempa Tenjo Resmi ini mampu menopang beban hingga ratusan ton. Bukan hanya mampu menopang beban ratusan ton, bantalan karet yang dipakai juga mampu bertahan sampai 2 abad alias 200 tahun.

Diketahui, bangunan tahan gempa Tenjo Resmi ini berada di tanah milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN).

“Untuk masa kadaluaraa karetnya ini 200 tahun dari sejak terpasang itu. Untuk bantalan karet itu yang 16 itu bisa menopang menahan beban sebesar 786 ton, masa kadaluarsanya itu 200 tahun,” kata Ujang Sutardi, Karyawan PTPN 1 Reginonal 2.

Sejarah Bangunan

Ujang Sutardi mengulas bahwa bangunan tahan gempa Tenjo Resmi ini dibangun sekitar tahun 1990-an ini.

Lokasinya berada di lahan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) 1 Regional 2. Bangunan tahan gempa bernama Tenjo Resmi ini memiliki 4 lantai.

Saat masuk ke ruangan lantai 1, tepat di area tangga menuju lantai 2, kita disambut oleh catatan sejarah bangunan yang dipasang dalam bingkai.

Tulisan “Bangunan Tahan Gempa Tenjo Resmi, Pasir Badak” terpampang jelas dalam bingkai berdiameter sekitar 1 meter itu.

Bangunan tahan gempa ini selesai dibangun tahun 1994 dan diresmikan tanggal 26 Oktober 1994.

“Betul, memang benar pertama di Indonesia yaitu tahun 1990 an dibangunnya, cuman diresmikannya pada 1994. Karena apa, pertama di Palabuhanratu itu selat gempanya itu kan pertama di Pantai Loji, jadi di sini survey lokasinya karena kan pertama ke Jakarta deket, ke Bandung deket,” ujar Sutardi ,Sabtu (17/1/2026).

Menariknya, pembangunan bangunan tahan gempa ini sepenuhnya dibiayai oleh organisasi PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) untuk pengembangan industri (UNIDO).

Tujuan pembangunan bangunan tahan gempa ini adalah meningkatkan penggunaan karet alam dalam kehidupan manusia, yang diusulkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Karet Internasional (IRRDB), dan dilaksanakan oleh Asosiasi Penelitian Produsen Karet Malaysia (MRPRA) di Inggris dengan dukungan dari Universitas California Barkeley, Lembaga Pendidikan Getah Malaysia (RRIM) dan anggota IRRDB lainnya seperti Indonesia, Thailand, China, Pilipina, dan India.

Sebab itu, bangunan tahan gempa Tenjo Resmi ini dibangun tidak menapak tanah alias berbentuk panggung dengan bantalan karet

“Dulu dibangunnya sama 7 negara, termasuk India, Indonesia, terus Malaysia, China, 7 negara aja itu. Dulu uji coba, jadi PBB itu akan membuat bangunan tahan gempa uji cobanya yang dekat dengan gempanya tertinggi di Pelabuhan, makanya dibikin di sini,” tutur Sutardi.

“Ternyata pada saat pembuatan di sini itu tidak optimal karena di bawahnya itu tidak ada tanah, banyaknya karang, jadi si getaran gempanya itu agak kurang. Makanya di uji coba bikin simulasi gempa, ternyata tidak ada perubahan dari segi struktur bangunannya,” jelasnya.

Sutardi pun menunjukkan bantalan karet yang dipakai dalam struktur bangunan tahan gempa Tenjo Resmi ini. Di lobi bangunan juga dipangpang struktur karet bagian dalam yang dipakai dalam kontruksi bangunan.

Sutardi menyebutkan, terdapat sekitar 16 bantalan karet yang dipakai untuk menopang bangunan 4 lantai ini.

“Ini bangunannya pakai bentuk panggung, itu kan bantalannya pakai karet sintetis dari Malaysia, dimana di dalamnya itu dilapisi serat baja, jumlah bantalannya itu 16 bantalan karet. Untuk bangunan ada 3 lantai, 4 sama ruangan rapat yang di atas,” ucap Sutardi.

Kekuatan bantalan karet dalam menahan guncangan gempa bumi ini pun sudah teruji puluhan tahun sejak didirikan dan diresmikan.

Sutardi pun memberikan kesaksian setiap kali terjadi guncangan gempa bumi, tidak ada perubahan sama sekali pada struktur bangunan tahan gempa Tenjo Resmi ini, bahkan keretakan pun tidak dialami pada bangunan tersebut.

“Untuk bangunan ini tidak ada perubahan yang kemarin sempat sering terjadi gempa cukup besar itu, alhamdulillah bangunan ini tidak ada perubahan dan tidak ada keretakan untuk struktur bangunannya, termasuk dari bantalan itu tidak ada perubahan,” ujar dia.

Sutardi menjelaskan, bangunan tahan gempa Tenjo Resmi ino saat ini difungsikan sebagai Agrowisata. Kamar-kamar pada bangunan pun disewakan senilai Rp 750 ribu per malam dengan fasilitas kamar ber-AC. Pengelolaannya pun berada di bawah naungan Gunung Mas.

“Sekarang itu difungsikan untuk disewakan jadi penginapan, jadi masuknya ke agro bisnis ke Gunung Mas, jadi ke Agrowisata. Jadi perkebunan regional 4 bukan dalam segi perkebunannya yang pusatnya di Gunung Mas, jadi pengawasan ini ke Gunung Mas. Kamar-kamar bisa disewakan, perkamar itu Rp 750 ribu,” kata Sutardi.

Saat ini, Sutardi mengungkap fasilitas bangunan yang mulai usang dimakan usia sedang dalam tahap renovasi. Sejumlah AC telah terpasang di 6 kamar, pengecetan ulang pun direncanakan akan kembali dilakukan.

“Dulu kan udah terpasang semua AC, kan deket pantai jadi cepet rusak, jadi mau renovasi dulu. Makanya sekarang lagi dalam pembenahan ulang, renovasi dulu, kemarin udah pasang AC baru 6 kamar yang terpasan. Rencana kedepan ini ada pengecetan ulang, mungkin nunggu acc direksi dulu,” ungkap Sutardi.