Minggu, 01 Mar 2026
Home
Search
Menu
Share
More
Admin pada Daerah Nasional
22 Feb 2026 08:22 - 3 menit reading

Indramayu Lawan Kekerasan terhadap Perempuan lewat Panggung Budaya

www.JendelaPeristiwa.com.ǁJawa Barat,9 Desember 2025-Sejumlah elemen di Kabupaten Indramayu berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan, khususnya bagi perempuan dan anak.

Upaya tersebut diwujudkan melalui gelaran Panggung Budaya Bangkit Bersuara yang berlangsung di Taman Aspirasi Rakyat Indramayu, Jalan RA Kartini, Kecamatan/Kabupaten Indramayu.

Kegiatan yang menjadi rangkaian Peringatan Kampanye 16 Hari Antikekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) itu diinisiasi Migrant Care (Perempuan Indonesia untuk Buruh Migran Berdaulat), Dewan Kesenian Indramayu, dan didukung Pemkab Indramayu.

Panggung budaya itu menampilkan pertunjukan seni dan budaya Indramayu yang membawa pesan sebagai aksi nyata penyadaran publik terkait perempuan harus dihargai serta tidak boleh menjadi korban kekerasan.

Kepala Dinas Kependudukan dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Disduk-P3A) Kabupaten Indramayu, Iman Sulaeman mengapresiasi semua pihak yang gencar menyerukan gerakan antikekerasan terhadap perempuan.

Menurut dia, dukungan tersebut harus semakin makin meningkatkan kepedulian seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mencegah segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak, sehingga jumlah kasusnya semakin menurun.

“Dulu diam itu emas, sekarang diam justru membuat kita tergilas. Pemkab Indramayu melalui visi REANG berkomitmen mencegah dan menangani kekerasan perempuan melalui pengamanan, edukasi, hingga advokasi,” ujar Iman Sulaeman dalam keterangan tertulisnya, Selasa (9/12/2025).

‎ia mengatakan, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih kerap terjadi meski Pemkab Indramayu gencar melaksanakan edukasi serta sosialisasi kepada masyarakat.

Mirisnya, kelompok rentan yang kerap menjadi korban banyak yang memilih diam seribu bahasa, karena pelaku merupakan orang berpengaruh di lingkungan sekitar atau keluarga terdekatnya.

Karenanya, pihaknya mengajak seluruh elemen masyarakat Kabupaten Indramayu untuk bersatu mencegah kekerasan dari di lingkungan terkecil, yakni rumah dan sekolah.

“Pak Bupati Indramayu, Lucky Hakim, juga berpesan jika satu perempuan berani bersuara, maka harapan tumbuh, dan perubahan besar dapat terwujud ketika banyak suara bersatu,” kata Iman Sulaeman.

Sementara Ketua Dewan Kesenian Indramayu, Ray Mangku Sutentra, mengaku, prihatin atas terjadinya berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan, termasuk pekerja migran yang menjadi pahlawan devisa negara.

Dalam kesempatan itu, ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat Kabupaten Indramayu untuk bergerak bersama menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak.

‎”Kita harus bergerak bersama, tidak hanya pemerintah, tetapi aktivis dan masyarakat luas juga untuk bersama-sama menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan maupuj anak,” kata Ray Mangku Sutentra.

Koordinator Migrant Care Indramayu, Muhammad Santosa, menyampaikan, data Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) mencatat 57,56 persen pekerja migran Indonesia adalah perempuan.

Sejak 2023, Migrant Care telah menangani berbagai pengaduan atau laporan terkait kasus kekerasan pekerja migran Indonesia, dan 65 persen di antaranya korbannya ialah perempuan.

“Banyak (korban) yang tidak berani bersuara, mungkin karena pelakunya adalah pihak berpengaruh, sehingga tema Diam Tertindas, Bangkit Bersuara sangat relevan agar kasus-kasus itu segera terungkap,” kata Muhammad Santosa.