Minggu, 01 Mar 2026
Home
Search
Menu
Share
More
Admin pada Daerah Nasional Ragam
22 Feb 2026 08:22 - 4 menit reading

Angklung Hidup, Bambu Lestari: Udjo Ecoland Resmikan ‘Angklung Living Museum’

www.JendelaPeristiwa.com.ǁJawa Barat,30 November 2025-Lima belas tahun setelah angklung dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, gema bambu itu kembali menjadi pusat perhatian di Udjo Ecoland pada Minggu (30/11/2025).

Sejak dipatenkan sebagai warisan dunia pada 2010, angklung telah menjadi duta budaya yang menghubungkan Indonesia dengan panggung internasional.

Kendati demikian, di balik pencapaian itu, terdapat tantangan besar bagaimana memastikan seni bambu ini tetap dipahami, dimainkan, dan diwariskan oleh generasi muda.

Perayaan di Udjo Ecoland, menjadi babak baru dalam melestarikan angklung tak hanya secara simbolis.

Di tempat ini, berdiri bangunan dari bambu. Di lahan seluas 3,9 Ha, suasana khas perayaan budaya Sunda yang hangat dan inklusif.

Pada momentum tersebut, puluhan emak-emak turut memeriahkan panggung dengan penampilan penuh semangat membawakan lagu “Manuk Dadali.”

Dengan angklung di tangan, harmoni bambu yang bergetar serempak berpadu dengan vokal yang lantang, menjadikan lagu kebanggaan Jawa Barat itu terasa lebih hidup.

Usai penampilan tersebut, panggung berlanjut dengan musikalisasi Nusantara yang dibawakan oleh anak-anak dan remaja yang menghadirkan medley lagu-lagu daerah dari berbagai penjuru Indonesia.

Aransemen modern yang dibalut teknik permainan angklung membuat “Bhineka Tunggal Ika” terasa nyata dalam bentuk musikal.

Para penari yang membawakan tari Bali tampil anggun dengan kebaya berhias payet. Rambut mereka disanggul tinggi dan dihias gelungan lengkap dengan bunga kamboja serta ornamen emas khas Bali.

Riasan mata yang tegas, garis alis yang melengkung tebal, dan lipstik merah menyala memperkuat karakter gerak yang halus namun penuh energi.

Sementara itu, penari yang menampilkan tarian dari kawasan Timur Indonesia mengenakan kain tenun dengan warna-warna coklat. Aksesori manik-manik berukuran besar menghiasi leher dan dada, sementara hiasan kepala dari bulu atau serat alam mempertegas identitas budaya setempat.

Di balik panggung utama, terdapat juga Pasar Rakyat yang akan menampilkan ragam kuliner lokal, produk kerajinan, hingga karya komunitas kreatif.

Area ini dirancang sebagai ruang interaksi santai tempat pengunjung.
Tidak kalah menarik, Kaulinan Budak Lembur turut menjadi magnet tersendiri dalam rangkaian kegiatan.

Bekerja sama dengan Komunitas Hong, sesi ini memperkenalkan kembali permainan tradisional Sunda kepada generasi muda.

Ketua DPRD Jawa Barat Buky Wibawa melihat Udjo Ecoland sebuah percontohan penting tentang bagaimana seni, alam, dan masyarakat dapat berjalan selaras.

Menurut Buky, konservasi bambu sebagai contoh nyata harmonisasi antara produk kesenian dan lingkungan.

“Ini upaya yang sangat baik. Kesenian dipadukan dengan konservasi, melibatkan masyarakat, dan menyadarkan kita semua bahwa menjaga keseimbangan lingkungan itu sangat penting,” ujarnya.

Ia menyinggung kondisi alam yang kian rentan. Di sejumlah kawasan Bandung utara, seperti Lembang dan Cimenyan, banjir dan longsor muncul meski berada di dataran tinggi.

“Air bercampur lumpur turun ketika hujan deras. Ini pengingat bahwa kita harus menjaga lingkungan, salah satunya dengan menanam bambu,” kata Buky.

Dalam kegiatan itu, ia juga meresmikan area yang kelak menjadi Angklung Living Museum museum hidup angklung yang memadukan seni dengan konservasi bambu hitam sebagai bahan baku utama instrumen tersebut.

Pertunjukan anak-anak menjadi salah satu bagian yang paling disorot Buky. Menurutnya, konsep Saung Angklung Udjo sejak masa Mang Udjo memang berakar pada community-based development, dengan melibatkan masyarakat sekitar dalam pertunjukan dan produksi angklung.

“Anak-anak yang tampil itu adalah generasi kesekian dari yang dirintis Pak Udjo. Mungkin mereka belum sepenuhnya memahami maknanya, tapi pengalaman ini akan membentuk kesetiaan pada seni tradisi,” ucapnya.

Pelibatan generasi muda dianggap penting agar angklung tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi tetap hidup dan berkembang lintas waktu.

Direktur Utama PT Saung Angklung Udjo, Taufik Hidayat Udjo, menuturkan, bahwa pelestarian angklung kini menghadapi tantangan serius yakni berkurangnya ketersediaan bambu, khususnya bambu hitam.

Karena itu, Angklung Living Museum menghadirkan Leuweung Awi Hideung sebagai kawasan budidaya bambu berkelanjutan.

“Inisiatif ini memastikan masa depan angklung. Dengan dukungan Ketua DPRD Jabar yang menyerahkan seribu bambu hitam kami berharap ekosistem angklung terjaga dari hulu ke hilir,” tuturnya.

Ia menambahkan, konservasi bambu tidak hanya soal memastikan ketersediaan bahan baku, tetapi juga bagian dari upaya memperbaiki lingkungan yang rawan bencana.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, Iendra Sofyan, menilai kegiatan ini mampu menjawab tiga aspek sekaligus: sosial-budaya, lingkungan, dan ekonomi.

Menurutnya, kebudayaan tak boleh berhenti sebagai artefak, melainkan terus berkembang mengikuti zaman.

“Nilai-nilainya kita jaga, tapi bentuknya berkembang. Sekarang angklung sudah masuk industri, dan ekonomi tumbuh bersama seni tradisi. Karena itu kami sangat menyambut baik gerakan konservasi dari komunitas seperti ini,” kata Iendra.