
www.JendelaPeristiwa.com.ǁJawa Barat,6 April 2026-Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram mulai dirasakan warga Sukabumi Jawa Barat.
Hal ini terjadi setelah harga gas melon itu naik yang membuat stok di pasar menjadi langka.
Kesulitan dirasakan warga kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi.
Sejumlah warga mengaku kesulitan mendapatkan gas bersubsidi tersebut dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini membuat mereka harus mencari hingga ke luar wilayah tempat tinggalnya.
Salah satunya dirasakan warga Perum Pesona Idaman. Biasanya, mereka dapat dengan mudah membeli gas elpiji di warung terdekat dengan harga sekitar Rp23 ribu per tabung. Namun kini, stok di tingkat pengecer kosong.
Akibatnya, warga terpaksa mencari hingga ke Pasar Sukaraja demi mendapatkan gas untuk kebutuhan sehari-hari.
Salah seorang warga, Nai (41), mengaku harus berkeliling cukup jauh demi mendapatkan gas elpiji. Ia bahkan sudah mendatangi beberapa warung di sekitar tempat tinggalnya, namun semuanya kehabisan stok.
“Biasanya saya beli di warung dekat rumah, gampang, harganya juga sekitar Rp23 ribu. Sekarang sudah beberapa hari kosong terus. Saya sudah coba keliling ke beberapa warung, tapi jawabannya sama, lagi tidak ada stok,” ujar Nai, Senin (6/4/2026).
Menurut Nai, kondisi ini cukup menyulitkan karena gas elpiji merupakan kebutuhan utama untuk memasak sehari-hari.
“Terpaksa harus cari sampai ke Sukaraja, itu juga belum tentu langsung dapat. Kadang harus nunggu atau cari lagi ke tempat lain. Lumayan capek juga, apalagi kalau lagi butuh cepat buat masak,” katanya.
Warga lainnya, Herawati (40), menyebut kenaikan harga sudah terjadi sebelum kelangkaan dirasakan warga. Menurutnya, kenaikan tersebut mulai terasa dalam beberapa waktu terakhir.
“Sebelumnya juga sudah naik, dari Rp21 ribu menjadi Rp23 ribu per tabung,” ujar Herawati.
Sementara itu, kelangkaan juga dirasakan di tingkat pengecer. Hilman (33), pemilik warung setempat, mengaku distribusi gas elpiji ke tempatnya mengalami keterlambatan.
“Biasanya pengiriman tidak pernah telat. Tapi sekarang sudah sekitar satu minggu belum ada kiriman sama sekali,” ujar Hilman.
Ia juga mengungkapkan adanya kenaikan harga dari tingkat distributor yang berdampak pada harga jual di warungnya.
“Kemarin saya jual Rp22 ribu per tabung, sekarang jadi Rp23 ribu. Itu juga karena dari pangkalan ke pengecer sudah naik duluan,” kata Hilman.
Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat stok gas elpiji di warungnya kosong dan tidak bisa melayani kebutuhan warga.
“Otomatis stok di warung kosong. Jangankan untuk dijual, untuk kebutuhan masak pribadi di rumah juga ikut terdampak,” ucapnya.
Kelangkaan ini dikeluhkan karena berdampak langsung pada aktivitas rumah tangga warga, terutama untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti penyebab kelangkaan gas elpiji 3 kilogram di wilayah tersebut dan belum adanya keterangan resmi dari pihak terkait.