Jumat, 17 Apr 2026
Home
Search
Menu
Share
More
Admin pada Nasional Ragam Subang
22 Feb 2026 08:21 - 2 menit reading

Kisah Pilu Banjir Pamanukan Subang: Warga Meninggal & Dievakuasi Pakai Cator

www.JendelaPeristiwa.com.ǁJawa Barat,28 Januari 2026-Banjir yang tak kunjung surut di Desa Mulyasari, Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang, bukan hanya merendam rumah dan harta benda warga.

Di tengah genangan air setinggi 20 hingga 30 Cm yang masih menguasai pemukiman, duka mendalam menyelimuti keluarga Syainih (61).

Perempuan lanjut usia itu harus kehilangan suaminya, Suhendi (62), secara mendadak di tengah situasi banjir yang telah berlangsung selama beberapa hari.

Suhendi menghembuskan napas terakhirnya pada Selasa (27/1) malam, sesaat setelah menunaikan salat Magrib.

“Abis Magrib, mau nunggu Isya duduk di sini (teras rumah). Katanya puyeng (pusing), terus jatuh,” kata Syainih di rumah duka yang masih dikelilingi air banjir, Rabu (28/1/2026).

Menurut Syainih, suaminya tidak memiliki riwayat penyakit serius.

Selama banjir, Suhendi juga tidak ikut mengungsi dan lebih banyak berada di rumah.

Ia menduga kondisi tubuh suaminya menurun akibat kelelahan dan dingin karena terus terendam air banjir.

“Engga sakit apa-apa, cuma ngeluh soal kakinya aja katanya. Mungkin kedinginan, kerendam air terus,” ujarnya.

Sehari-hari, Suhendi tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia biasanya membantu Syainih yang berjualan pisang ke pasar. Namun sejak banjir melanda, aktivitas tersebut terhenti.

Syainih memilih menghabiskan stok dagangan yang ada, sementara suaminya lebih banyak berdiam di rumah.

Suasana haru semakin terasa saat prosesi pemakaman berlangsung.

Karena akses jalan terendam banjir dan berada di dalam gang, jenazah Suhendi terpaksa diangkut oleh warga hingga ke jalan utama melewayi genangan air, hingga akhirnya diangkut dengan kendaraan pengangkut sampah (cator) ke TPU Pamanukan.

Tangis anak Suhendi pecah saat melihat keranda ayahnya diangkat perlahan, menyusuri air banjir yang masih menggenangi jalan kampung.

Sementara itu, Kepala Desa Mulyasari, Hassanudin Masawi, mengatakan kondisi banjir di wilayahnya kembali mengalami kenaikan setelah sempat surut.

“Sekarang malah naik lagi. Kemarin sempat turun hampir 20 Cm, sekarang naik lagi sekitar sampai 30 Cm karena intensitas hujan yang tinggi,” ucapnya.

Ia menambahkan, sebagian warga masih bertahan di rumah, sementara lainnya mengungsi di sejumlah titik, seperti di bawah jalan layang (flyover) dan sejumlah masjid.

Untuk kebutuhan pengungsi, pemerintah daerah terus menyalurkan bantuan logistik.

“Alhamdulillah, makanan tersedia pagi dan malam, dua kali sehari. Sekarang disuplai dari dapur umum Dinas Sosial yang ada di kecamatan,” ujarnya.